Keterampilan Interpersonal untuk Kualitas pembelajaran

Oleh :  Yustinus Kumoro dasutomo, S.Pd. (SKKK JOGJAKARTA)

injil tuk anak

Keterampilan interpersonal atau menjalin hubungan baik dengan siswa, sangat penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran di sekolah. Keterampilan ini, sangat ditunjang oleh pemahaman  sang guru terhadap karakter, latar belakang, dan potensi siswanya. Menurut Dale Carnegie (1996) untuk membangun hubungan yang baik tersebut sebaiknya  guru-guru melakukan hal-hal berikut :

  1. Membiasakan diri tersenyum, memberi salam, dan menyapa.

Tersenyum, memberi salam, dan menyapa, adalah nasihat yang sudah populer di masyarakat kita. Senyuman adalah cara paling mudah untuk membangun kesan pertama yang baik. Pengaruh dari sebuah senyuman memang luar biasa.  Senyuman membuat sebuah keluarga menjadi lebih hangat dan ceria.  Kelas yang sepi,  kaku menjadi bergairah. Tugas berat terasa ringan.

Tersenyumlah , setiap memasuki ruang kelas. Berikan sapaan yang paling hangat kepada semua siswa. Masukkan semangat kedalam kalimat-kalimat yang Bapak, Ibu ucapkan. Seulas senyum, bisa menyihir semua siswa , menularkan kegembiraan di  dalam kelas kita. Senyuman memperkaya orang yang menerimanya, namun tak membuat miskin orang yang mengobralnya. Senyum terjadi hanya sekejap, namun kenangan tentangnya kadang bisa bertahan selamanya. Guru yang bijak tak akan melupakan tindakan ini, demi meningkatkan kualitas pembelajaran yang ia lakukan setiap hari.

  1. Menghindari kritik kepada siswa dan mengatakan kamu salah!

Suatu siang, pada jam terakhir, seorang guru mendapati seorang siswanya membolos. Paginya sang guru menemui siswa tersebut. Apakah untuk memarahi dan menunjukkan kesalahannya? Tidak! Sang guru justru  memberikan sebuah buku tentang pentingnya kedisiplinan untuk meraih cita-cita, sambil berpesan,”Cita-citamu pasti akan tercapai, setelah kamu mengerti isi buku ini!” Sejak saat itu, siswa tadi tak pernah membolos lagi.

Sampai sekarang, masih ada kebiasaan guru yang mengritikan siwanya dengan kata-kata yang manis, dan diakhiri dengan kata’tetapi’. Contohnya : ” Bapak sungguh-sungguh bangga padamu Anne, karena nilai-nilaimu meningkat di semester ini. Tetapi kalau kamu mau belajar lebih giat lagi pada pelajaran matematika, hasilnya pasti lebih baik dari ini!”

Saya yakin, Anne akan bersemangat sampai ia mendengar kata ‘tetapi’. Baginya, pujian itu hanya pendahuluan untuk sebuah kritik atas kegagalannya. Tak salah bila dalam hati, ia mempertanyakan ketulusan pujian tersebut. Pujian seperti itu tak punya dampak bagi semangat belajar siswa selanjutnya.

Peristiwa semacam itu tak perlu terjadi, bila guru mengganti kata ‘tetapi’ dengan kata ‘dan’.  ”Bapak sungguh-sungguh bangga padamu Anne, karena nilai-nilaimu meningkat di semester ini. Dan  kalau kamu mau belajar lebih giat lagi pada pelajaran matematika, hasilnya pasti lebih baik dari ini!” Kini Anne menerima pujian itu, karena tak ada kata-kata lanjutan yang menyatakan kegagalannya.

Mengritik siswa adalah hal yang sia-sia, karena akan melukai kebanggaan, harga diri, dan menimbulkan rasa benci. Satu cara yang paling efektif bagi seorang guru untuk mengoreksi kesalahan siswa adalah dengan memberitahukan kesalahannya secara tidak langsung!

  1. Memperbanyak pujian dan penghargaan.

Saya pernah merasa putus asa harus terus memotivasi satu siswa, agar dapat menulis dengan jelas dan rapi. Sampai suatu hari, saya perhatikan ia mengumpulkan tugas dengan tulisan yang sedikit lebih rapi. Saya putuskan untuk memujinya atas pekerjaannya itu, di depan teman-temannya. “Anak-anak, hari ini Pak Yus sangat bangga dengan tulisan temanmu, Ivan!” Sejak kejadian itu, saya mendapati tulisan Ivan semakin rapi, dan terus bertambah rapi.

Secara alami, setiap orang senang bila mendapat pujian, dan kecewa bila setelah melakukan pekerjaan yang dianggapnya penting, tak ada satu orangpun yang memberi komentar bernada menghargai. Termasuk siswa-siswa kita. Mulai sekarang cobalah untuk berusaha meninggalkan jejak-jejak keramahan dari rasa penghargaan untuk hal-hal kecil sekalipun, kepada  semua siswa dalam setiap kali mengajar. Bapak, Ibu akan terheran-heran melihat begitu bersemangatnya siswa-siswa Bapak, Ibu pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Pujian dan penghargaan yang jujur membawa dampak positif bagi kemajuan siswa, sementara kritik dan cemooh hanya meninggalkan sakit hati. Dan seorang yang berprofesi sebagai guru harus paham akan hal ini.

  1. Membuat siswa merasa penting

Hampir semua sekolah pernah mengalami bagaimana repotnya memiliki siswa bermasalah. Selain dianggap mengganggu, keberadaanya sering menyulitkan para guru. Keadaan siswa bermasalah, sedikit banyak akan berubah bila guru-guru mau membuatnya merasa penting. Seperti yang dialami oleh Jensen, yang terkenal sebagai siswa yang suka membuat keributan di kelas, menggangu teman, dan mudah marah.  Sampai suatu ketika keadaan berubah 180%, karena hadirnya seorang guru baru yang mau memberi kepercayaan kepadanya untuk menjadi ketua kelas.

Tedorong oleh hasratnya untuk  menjadi penting, Jensen membuktikan pada semua teman dan juga guru-guru di sekolahnya, bahwa ia dapat diberi tanggung jawab. Apa yang dilakukan oleh ibu guru tersebut? Ia hanya menawarkan kepada Jensen,”Apakah kamu mau membantu Ibu menjadi ketua kelas?” Seperti disambar geledek, Jensen hanya bisa berdiri tak percaya, sambil bertanya,”Saya? Saya jadi ketua kelas. Apa tidak salah?” “Betul, Jensen! Ibu melihat bakat kepemimpinan ada dalam diri kamu!” Itulah awal yang menjadi titik balik dalam kehidupan Jensen. Setelah ia merasa bahwa dirinya penting.

  1. Ajukan pertanyaan, bukan memberi perintah.

Suatu pagi, dalam pelajaran  Bahasa Indonesia, seorang guru berteriak,”Besok pagi, kumpulkan tugas analisis cerpen!” Paginya, dari 24 siswa hanya 3 orang yang mengumpulkan. Yang lain tidak peduli, meskipun diancam nilainya tak akan memenuhi kriteria ketuntasan minimal. Saya yakin keadaan akan menjadi lain, jika sang guru mengubah perintahnya dalam bentuk pertanyaan. “Siapa yang besok pagi dapat mengumpulkan tugas analisis cerpen?”

Tak satu orangpun di dunia ini, yang senang diperintah. Termasuk siswa-siswa kita. Sebagai guru kita mengingat prinsip ini.  Hindari memberi perintah langsung seperti itu. “Ayo, Evan jawab pertanyaan nomor 5!”, gantilah  dengan pertanyaan : “Evan, apakah kamu dapat menjawab soal nomor 5?” “Jangan mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini!”, ubahlah menjadi ”Apakah kamu sudah mencoba dengan cara lain?”

Dengan cara mengajukan pertanyaan, bukan hanya membuat  perintah kedengaran menyenangkan. Cara seperti itu, sering dapat membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab siswa yang kita tanya. Seorang guru yang arif, akan menggunakan pertanyaan, bukan memberi perintah langsung.

Bila Bapak, Ibu guru mampu menerapkan prinsip-prinsip di atas di dalam kelas, penulis yakin  efektivitas dan kualitas pembelajaran yang Bapak, Ibu harapkan akan cepat terwujud.

bone

 

 

(Yustinus Kumoro Dasutomo adalah Guru SD Kristen Kalam Kudus, Yogyakarta)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *