MENGEMBANGKAN SKKK SEBAGAI SEKOLAH PEBELAJAR DENGAN MODEL PEMIMPIN ENTREPRENEUR

MENGEMBANGKAN SKKK SEBAGAI SEKOLAH PEBELAJAR

DENGAN MODEL PEMIMPIN ENTREPRENEUR

Oleh: Adhi Kristijono

 

Apa makna SKKK? Sebuah tempat diterapkannya Pendidikan Kristen. SKKK adalah limpahan pelayanan dan berkat dari kehidupan seorang guru Kristen. Guru telah mendapatkan berkat dan akan terus berbagi berkat melalui pelayannya kepada anak-anak didiknya. Guru memegang teguh bahwa Roh Kuduslah yang memegang peranan besar dalam pengajaran dan pembelajaran, melalui dia yang selalu belajar, berdoa, dan berserah, juga terus berkarya aktif. Sekolah adalah tempat mengajar dari sebuah perspektif yang berpusatkan Alkitab, mengenai kehidupan dengan berbagai segi dan warna, corak dan tipe.

Pendidikan Sekolah Kristen bermuatan Integrasi Kebenaran dan pengetahuan,  dan berusaha keras mengembangkan karakter dan tingkah laku yang serupa Kristus. Pendidikan Kristen dan Sekolah Kristen mengajarkan  bahwa semua kebenaran adalah kebenaran Allah.  Nilai-nilai inti dalam pendidikan Kristen antar lain: “Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku” Amsal 3: 1. Seluruh isi kitab Mazmur 119 adalah bagian penting dari pengajaran di sekolah. Pandangan tentang dunia berdasarkan Alkitab: Yesus mengingatkan: Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus (Kolose 2:8). Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi (Yosus 1: 8 – 9).

Pengaruh Pemimpin Sekolah sangat besar dalam upaya memajukan kualitas sekolah. Seorang pemimpin yang bervisi ke masa depan, akan mampu membawa gerbongnya ikut serta dalam pergerakan kemajuan serta tangguh dalam menghadapi tantangan. Sebaliknya seorang pemimpin tanpa visi yang jelas dan tidak bisa memandu timnya menjadi team work yang dinamis, dan akan sulit menjadikannnya timnya sebagai sekolah pioner yang berpengaruh di komunitasnya. Jadi bagaimana seharusnya kualitas ideal seorang pemimpin?

Memimpin itu memang bukan hal mudah. Tetapi juga bukan hal sulit dan tak mampu dicapai. Dalam iman percaya kita sebagai pengikut Kristus, kita percaya bahwa ada sosok pemimpin bagi kehidupan kita. “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. (Matius 23:10)” Apakah kita sering kali merasa letih, lesu, berbeban berat menghadapi tugas-tugas kepemimpinan? Maka kita pu perlu perlu datang kepada Sang Pemimpin dan belajar pada-Nya.

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu, Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang enak dan beban-Kupun ringan (Matius 11:28-30)”.

Dunia kita terus berubah, bahkan bukan lagi dalam hitungan tahun, bulan, minggu, dan atau hari, melainkan dalam hitungan menit dan bahkan detik, dunia mengalami perubahan. Menurut Takim Andriono, dalam salah satu sesi seminar yang dipimpinnya, “Abad XXI adalah abad informasi & pengetahuan. Perubahan terjadi sangat cepat. Pengetahuan, menurut Drucker (1993), semakin menjadi faktor utama produksi, menyingkirkan modal, sumber daya alam dan tenaga kerja”. Iya, memang hanya yang peka dan waspada saja yang bisa ikut ambil bagian dalam pergerakan perubahan ini.

Tetapi pengetahuan berbeda dengan sumber daya yang lain. Pengetahuan menjadi cepat kedaluwarsa, sehingga pengetahuan hari ini tidak lagi berarti untuk hari esok. Oleh karenanya, organisasi & individidu harus terus belajar tanpa henti.

Pendidikan di Indonesia belum terbiasa dengan sistem peningkatan berkelanjutan. Kadang berganti menteri juga berganti grand design kurikulum nasional. Berganti satuan pendidikan juga tidak langsung mengalami pertumbuhan substansi kelimuan dan keteramilan secara mulus. Padahal tanpa perbaikan & pengembangan diri secara berkelanjutan, kita akan tertinggal. Hanya sedikit sekolah yang peka dan waspada dengan munculnya banyak varian problematika pendidikan di sekolah-sekolah, lalu menyelenggarakan pelatihan secara kontinyu dan berkelanjutan. Sebagian besar sekolah masih berkutat dengan upaya memahami konsep Kurnas, sibuk dengan melengkapi perangkat mengajar, dan lupa bahwa salah satu kekuatan utama yang membuat siswa mengalami kemajuan segnifikan adalah penggunaan metode, teknik, strategi, pendekatan belajar-mengajar dan model pembelajaran. “… dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. (Kolose 3:10)”.

Ada banyak contoh pencapaian keberhasilan/kinerja sekolah. Misalnya: Kelulusan 100% dalam Ujian Nasional, prestasi siswa dalam berbagai lomba tingkat regional, nasional, international, jumlah calon siswa yang mendaftar meningkat, ketertarikan dunia usaha untuk menggunakan lulusan sekolah setingkat SMK makin meningkat, munculnya ide-ide kreatif dan inovatif dalam pembelajaran modern, juga mulai bertambahnya guru-guru pintar yang berhasil membuat berbagai terobosan dalam dunia pengajaran efektif dan kreatif.

Faktor-faktor penentu keunggulan dalam 9 komponen kehidupan sekolah antara lain: Visi & Misi Sekolah, Kepemimpinan & Manajemen , Kurikulum & Proses Pembelajaran, Keuangan & Pembiayaan Studi, Murid. Para Ortu & Masyarakat, Lingkungan & Budaya.  Sarana Prasarana, Pendidik (guru) & Tenaga Kependidikan, Kepemimpinan & Manajemen.

Reeves (2006), The Learning Leader, ASCD dalam Takim, 2013.

 

Menurut Takim Andriono, ada sekolah-sekolah Kristen yang berada di kuadran “Beruntung”. Sekolah-sekolah dalam kuadran ini gagal menengarai, bahwa entah boneka, TV, computer game, atau guru yang berkualitas semuanya mampu mencapai hasil belajar yang sama – karena para murid sudah demikian pandai dan rajin sejak pertama kali mereka “datang” ke sekolah.

Para kepala sekolah dan guru sekolah-sekolah ini tak mampu menghubungkan praktik-praktik profesional mereka dengan hasil yang dicapai karena mereka tidak tahu bagaimana praktik-praktik mereka mempengaruhi hasil capaian.

Di kuadran “Kalah” para guru dan pimpinan sekolah di kuadran ini terjebak dalam sikap dan perilaku orang yang “kalah” à bisa menular kepada para siswa. Ada kecenderungan melakukan hal yang sama berulang-ulang namun mengharapkan hasil yang berbeda. Menyalahkan korban atau orang lain menjadi budaya sekolah.

Dan di kuadran “Belajar”. Setiap warga sekolah (mulai dari pengurus, kepala sekolah, guru, staf admin, murid, …) memiliki motivasi besar untuk belajar. Sekolah berhasil mengembangkan dan memiliki sistem yang efektif untuk “belajar” dari setiap peristiwa (lessons learned). Sekolah yang belajar mudah diarahkan menjadi sekolah yang inovatif dan akhirnya “leading” Hasil pencapaian/kinerja Sekolah Pembelajar mungkin belum tampak memuaskan, namun sekolah telah memiliki serta menerapkan strategi dan rencana tindakan yang tepat.

Di kuadran “Unggul”. Sekolah Pembelajar (the learning school) dengan berkat Tuhan, pada waktuNya akan menjadi sekolah yang “unggul” (leading) & menjadi “berkat”. Jika kita lebih banyak memfokuskan diri pada upaya menjadikan sekolah kita “leading” daripada “learning”, maka ada godaan  untuk menggunakan berbagai cara               sah atau tidak sah demi mencapai hasil. A leading school that stops to LEARN  will easily shift from leading to the lucky quadrant. (Takim, Handout seminar Guru, YPVM & Trampil, 2013).

Dalam penerapak pendidikan Kristen, yang hakiki adalah setiap guru memahami mengapa dipanggil Allah untuk mendidik dan mengajar.

No Ayat Tuhan Tindakan Allah Tindakan Sekolah Kristen
1 2 Petrus 1: 3

Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.

Memanggil dan menganugerahkan untuk hidup yang saleh

(Life + Godliness)

Mengantar, Mengenalkan, dan

Menerima Anugerah

2 2 Petrus 1: 4

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.

Kodrati Ilahi (divine nature) + ahli waris

Jadi mari kita lakukan seperti yang Tuhan harapkan

•        Karakter

•        Kompetensi

3. Matius 28:19

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Pengutusan What can I get?

What can I give?

 

Saat ini ada banyak sekolah yang mulai menerapkan pelatihan entrpreneurship dalam pemberdayaan para gurunya. Secara umum sekolah-ekolah itu sedang berusaha meraih nilai-nilai utama dalam pendidikan kreatif:

  • Prioritas mengajar adalah meninggikan Firman Tuhan (Ibrani 4:12, Mazmur 119:105)
  • Kebijakan dan praktik belajar dan mengajar yang mencerminkan ketaatan pada Allah (Matius 6:33)
  • Keinginan untuk meninggikan supremasi Kristus di seluruh  sekolah, tercermin dalam setiap evalusi guru yang akan dilakukan.
  • Bersandar pada Roh Kudus untuk segala hal, menjadi kekuaran program planning sekolah untuk mewujudkan program yang berbuah.
  • Relasi yang menunjukkan kasih dan kebaikan yang diajarkan Allah, ditampakkan dalam setiap dorong oleh guru kepada para muridnya.
  • Doa sebagai dasar yang mencirikan semua guru dan staf.

Petunjuk Paulus kepada Timotius meliputi beberapa dasar ‘entrepreneurship’ dalam pendidikan Kristen:

  • 1 Timotius 3 memperlihatkan nilai-nilai yang bisa diterapkan dan pendidikan formal dan nonformal:
    • Tidak mudah dijatuhkan dan terhormat
    • Tenang dan dapat mengendalikan diri
    • Mahir mengatur keluarga dengan anak-anak yang percaya Tuhan
    • Ramah
    • Mampu mengajar dan mau diajar
    • Bukan pemabuk (mencari kesenangan)
    • Tidak kasar namun lembut, tidak suka bertengkar
    • Bukan pencinta uang
    • Bukan petobat baru

 

Mari bersama menerapkan Pendidikan yang beralaskan Firman Tuhan. Mari kita memberi diri sebagai guru dan pemimpin sekolah yang melimpahkan pelayanan dan berkat dari kehidupan yang bersandar mutlak kepada kuasa Allah. Sebagai Guru kita akan tetap menerima berkat dari ladang milik Allah ini. Kita pegang teguh bahwa Roh Kuduslah yang memegang peranan besar dalam pengajaran dan pembelajaran, sehingga melalui kita, murid-murid dapat secara berkesinambungan dan aktif produktif menjadi pebelajar yang tak mengenal lelah dan putus asa, karena mereka telah melihat para gurunya telah menjadi Role Model yang real dan konkret. Sekolah menjadi tampak menyenangkan karena semua murid berusaha mengembangkan potensi pemberian Allah dan kelak akan dipersembahkan kembali untuk kemuliaan Tuhan dengan melayani sesama dalam bidang-bidang yang mereka suka, yang mereka geluti, dan yang mereka hidupi setiap hari bersama guru-gurunya.

 

(Adhi Kristijono, Executive Leader YKKI)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *